generation neXt

“Namanya juga orang lagi pusing, hahaha…” itu Mang Usep sedang menertawai dirinya sendiri yang baru saja minum obat sakit kepala dengan didorong air kopi yang sedari tadi menemaninya menghabiskan rokok kretek ketengan.

Mang Usep (bukan nama sebenarnya), nama sebenarnya saya ndak tau, lha wong saya cuma ketemu dia secara tidak sengaja gara-gara kami senasib, nongkrong di warung, minum kopi sambil nungguin bis tiga perempat kloter terakhir tengah malem yang minta ampun ngetemnya luama sekali. Saya juga ndak sempat lihat KTPnya, tapi dari logat bicaranya dan dari kumis yang menghias bibirnya, tampaknya nama Mang Usep lebih pantas untuknya ketimbang misalnya saya sebut dia Mbak Ndari apalagi Tante Jennifer. Yah, begitulah…

“Anak jaman sekarang mah rewel dan kebanyakan gaya, makan saja harus ditawari mau pake apa, itu saja sering susah, beda sama jaman saya kecil dulu.. adanya apa ya itu yang dimakan, gak usah pake harus ditawari yang macam-macam, gak ngrepotin kaya anak sekarang..” itu Mang Usep berkomentar tentang anak-anaknya yang suka punya keinginan macem-macem bahkan untuk urusan mengisi perut saja.

Hehe.., saya kok suka dengan tema ini: beda generasi, beda gaya hidup.

Selanjutnya, mari kita bicara tentang masalah antar generasi dan biarkan sejenak Mang Usep menghabiskan kopinya.

Baiklah.., sampeyan tentu sering dengar tentang orang-orang tua yang kadang ngomel dengan perilaku anak muda jaman sekarang, yah contohnya kayak teman saya yang satu ini. Tapi kalo dipikir-pikir, saya sendiri juga sebenarnya kadang memandang sinis dengan perilaku abegeh jaman sekarang dan tetap yakin seyakin-yakinnya bahwa jaman sayah abegeh dulu itu jauh lebih keren daripada abegeh-abegeh jaman sekarang. Haha.., apa sampeyan juga merasa begitu? Ya, setiap generasi punya kebanggaannya masing-masing…

Jarak antara jaman Mang Usep kecil dengan saat ini mungkin sekitar 30-40 tahunan dan selama itu perubahan pola hidup manusia jelas sangat banyak untuk disebutkan. Yang namanya perubahan itu bisa maju dan bisa juga mundur, di satu sisi kadang maju dan di sisi lain terjadi kemunduran. Perubahan tersebut berlangsung pelan-pelan tapi konstan. Kalo generasi sekarang itu dianggap mengalami kemunduran dibeberapa aspek, tentu generasi terdahulu juga punya andil dalam terciptanya kemunduran tersebut. Generasi terdahulu turut membentuk generasi berikutnya. Mereka bisa mewariskan kejayaan, kekayaan, ilmu pengetahuan tapi bisa juga mewarisi masalah yang tak kunjung selesai, kemiskinan atau bahkan hutang…

Cucu-cucuku

 zaman macam apa,

 peradaban macam apa

 yang akan kami wariskan kepada kalian.

 Jiwaku menyanyikan lagu maskumambang

 

kami adalah angkatan pongah

 besar pasak dari tiang.

 kami tidak mampu membuat rencana menghadapi masa depan,

 karena kami tidak menguasai ilmu untuk membaca tata buku masa lalu

 dan tidak menguasai ilmu untuk membaca tata buku masa kini

 maka rencana masa depan hanyalah spekulasi, keinginan, dan angan-angan

 (Maskumambang, Rendra)

Mantap kali penggalan puisi di atas. Tugas menjaga bumi adalah tongkat estafet yang diberikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Waspadalah!!!

Ditulis pada budaya, Indonesia, puisi, sak karepe, sejarah | 7 Komentar

hikayat uus jaNuari

Pada zaman dahulu kala, di sebuah tempat entah di mana terdapat sebuah kerajaan yang kaya raya loh jinawi. Kerajaan itu bernama Kerajaan Kothor Al Kithir, dipimpin seorang raja yang bijaksana dan bijaksini, bernama Prabu Sueb Al Kithir XII.

Di ibu kota kerajaan, hiduplah seorang supir angkot yang sederhana lahir dan batin bernama Uus Januari. Uus Januari adalah seorang pemuda berbadan gelap, berwajah tampan tapi miskin. Dia miskin karena profesi supir angkot memang tidak menguntungkan ketika itu. Angkot 06 Jurusan Pasar Sapi-Stasiun yang dia punya selalu sepi penumpang. Hal tersebut diakibatkan oleh karena negeri Kothor Al Kithir yang begitu makmur sehingga makanan melimpah ruah, sehingga semua penduduknya menjadi gemuk. Karena khawatir dengan berat badan yang terus bertambah, penduduk negeri tersebut jadi lebih suka jalan kaki atau naik sepeda gede (semacam moge, tapi sepeda) untuk bepergian ke manapun, kecuali jika harus ke luar kota yang jaraknya jauh sangad. Jadilah usaha angkot Uus sepi belaka adanya, sungguh kasihan. Dia sesungguhnya ingin mencoba profesi lain, tapi kata dukun kerajaan dia itu cocoknya hanya jadi supir angkot, yah apa boleh buat terpaksa lah Uus Januari menjalani hidupnya sebagai supir angkot 06.

Pada suatu malam minggu, Uus Januari yang sedang bete memutuskan untuk pergi ke pasar malam. Itu adalah pasar malam yang di selenggarakan olah Prabu Sueb Al Kithir XII dalam rangka syukuran tim sepakbola kerajaan yang memenangi medali emas Kejuaraan Sepakbola antar Kerajaan.

Di pasar malam, Uus Januari bertemu dengan seorang cewek yang tidak terlalu cantik bernama Neng Genghis. Neng Genghis adalah seorang janda kembang yang memutuskan untuk bercerai dengan suaminya yang dulu karena mantan suaminya itu kurang memberi perhatian dan rajin mabuk-mabukan .

Berkenalanlah Uus Januari dan Neng Genghis, saling bercerita tentang dirinya masing-masing dan saling tukar nomor hempun, email dan akun ndasballo (jejaring sosial semacam fesbuk yang marak di Kerajaan Kothor Al Kithir) ). Sejak itu mereka jadi sering berkomunikasi, sering bertemu dan juga saling jatuh cinta, untuk akhirnya mereka akhirnya memutuskan untuk menikah. Tapi sungguh malang, John Genghis, ayahanda si Neng Genghis tidak merestui hubungan tersebut karena beliau ini menganggap masa depan Uus Januari ini sebagai supir angkot sangatlah suram.

“Pokoknya, tidak boleh… lihatlah pernikahanmu dulu gagal dengan model orang macam itu juga!!!” bentak John pada anaknya. Menurut John, Neng Genghis telah dipelet sama Uus Januari.

Neng Genghis dan Uus Januari tak gentar dengan penolakan, demi melanjutkan keinginan bersama mereka pun kabur ke luar kota. Jadilah mereka menikah di sebuah kota kecil masih di kerajaan Kothor Al Kithir dan berangan-angan akan hidup bahagia selamanya.

Hari berlalu, untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, Uus Januari mencoba beberapa pekerjaan tapi tak satupun berhasil baik sampai akhirnya dia memutuskan kembali ke pekerjaan lamanya: sopir angkot sesuai dengan anjuran dukun kerajaan.

Ahai, kota kecil ini pun makmur tiada tara, makanan melimpah ruah tiada tara, di kota ini lebih jarang lagi ada orang yang mau naik angkot untuk urusan dalam kota sehingga di kota ini hanya ada satu tukang angkot belaka, dialah Mat Tamu-su, seorang tinggi besar kekar dan berperangai kasar. Mat Tamu-su sangat tidak suka dengan keberadaan Uus Januari sebagai sopir angkot karena dianggapnya akan mengganggu kesenangannya dalam melakukan pekerjaan yang amat dicintainya. Mat Tamu-su mengintimidasi Uus Januari agar berhenti saja jadi sopir angkot. Karena sayang nyawanya, Uus Januari pun berhenti jadi sopir angkot dan menjadi pengangguran dan menjadi miskin.

Sebentar.., kau mungkin bertanya, kenapa Uus Januari miskin, kan katanya negeri Kothor Al Kithir itu sejahtera sehingga makanan melimpah ruah dan para penduduknya gemuk adanya? Ya, “miskin” yang dialami oleh Uus Januari tentunya ya miskin dalam ukuran negeri Kothor Al Kithir, jadi kalo soal makan dan tempat tinggal tak jadi masalah. Tapi kau tahulah.., dalam peradaban yang dibangun atas dasar materialisme, kepemilikan materi adalah hal yang lalu jadi sangat penting, kepemilikan materi lalu dijadikan ukuran harga diri seseorang, yang punya banyak materi lalu menjadi terhormat.. yah begitulah, tentu kau tahu betul itu, sebuah peradaban yang dangkal…! Ya, karena tidak memiliki banyak materi juadilah Uus Januari merasa dirinya sebagai sampah belaka di lingkungannya, dan itu menyakitkan buatnya..

Baiklah..,

Neng Genghis pun lama kelamaan tidak tahan menyandang status sosial sebagai orang miskin dan dia akhirnya mengajak suaminya untuk mudik, pulang ke kota lagi. Karena tak ada pilihan, Uus Januari pun setuju adanya. Maka, kembalilah mereka ke kota halamannya…

John Genghis ternyata masih belom mau menerima keberadaan Uus Januari sebagai menantunya, hubungan John dan Uus pun dingin sedingin es yang beku di dalam freezer dan terkadang panas sepanas mentari penuh emosi.

(Rencananya Bersambung…)

Ditulis pada budaya, Indonesia, sak karepe | 5 Komentar

bukan sekeDar enak

Pada sebuah siang itu, Kang Yitno nanya gini ke temen saya:

“Lha kok situh kemaki amat sih, sukanya kok ndengerin lagu-lagu enggris? Nggaya..”

Asem ik, bukannya nggaya (belagu) Kang…  Lhah, lagian apa salahnya to? Lha, mereka kan juga manusia sama kayak kita, cuman bahasanya saja yang berbeda, juga budaya dan kebiyasaane. Selebihnya kan ya sama manusianya…”

“Lhah, dengan mendengarkan curahan hati mereka lewat musik kita kan jadi bisa memahami, kehidupan yang mereka rasakan di sana, yang tentunya berbeda dengan apa yang kita alami di sini. Dengan gitu wawasan kita bisa bertambah.., Lhah, apa situ mungkin kuwatir saya jadi ketularan mereka terus jadi bertingkah laku kayak mereka gitu ya kang? Wah, ya ndak bisa gitu, sampeyan jangan menyepelekan sayah dong. Gini-gini kan sayah jugak punya prinsip sendiri..”

“Begini Kang, di era dimana informasi dan gesekan budaya begitu berjubel ndak karuwan ini, ada dua hal yang penting kita lakukan, yaitu: fleksibel dan memiliki pondasi yang kuat…”

”Fleksibel dalam artian kita ndak menutup diri dengan kemungkinan untuk belajar dan menyerap sesuatu dari luar lingkungan kita, dan di satu sisi kita juga harus punya pondasi nyang kuat dalam diri tentang prinsip kebenaran, keyakinan dan ideologi yang akan membantu kita untuk menyaring berjubel informasi dan gesekan budaya yang naudubillah ruwetnya ituh…”

“Hayah, merdu sekali situh ndobosnya., lha wong cuma ndenger lagu saja kok sampe nambah wawasan segala.., yang namanya denger lagu itu asal bisa goyang ya sudah.., berarti enak, gitu saja kok repot…” Kang Yitno melanjutkan hisapan rokok kreteknya.

”Iya, soal goyang dan hiburan itu juga merupakan salah satu fungsi dari kesenian Kang, buat menghibur dan melupakan sejenak penatnya persoalan hidup..” temen saya melanjutkan.

”Tapi Kang, fungsi seni yang sejati itu ya bukan saja melulu untuk berjoget dan gampang didengar.. seni itu ekspresi jiwa, sarana penyampaian suara hati… Ada yang bilang, apapun yang berasal dari hati pasti sampai ke hati juga. Nah, maksudnya, bila sebuah karya itu dibuat murni dari hati nurani seorang seniman, dari kegelisahan dan permenungannya, tentunya karyanya tersebut akan bisa menyentuh hati penikmat seni, lha kalo orang sudah tersentuh hatinya itu kan namanya jadi tercerahkan…”

”Jadi, karya seni bermutu itu ya.., yang bisa membuat hati jadi tercerahkan. Kalo menurut saya, mendengarkan musik sambil bergoyang itu cukup menghibur, tapi kualitas tertinggi dari menikmati musik adalah dengan merenungkannya…” panjang sekali temen saya itu mengkotbahi Kang Yitno.

Hehe.., Kang Yitno pun manggut-manggut..

Walah, ingatan saya lalu melayang pada lagu-lagu populer jaman sekarang, yang walopun beda-beda bandnya tapi jenis musiknya itu-itu juga.., lalu pada sinitron tipi nyang episodenya harusnya sudah selesei tapi disambung-sambungkan lagi demi melanjutkan keuntungan sehingga jalan ceritanya jadi muter-muter gak jelas…, lalu pada para prisenter yang mendadak jadi penyanyi.., lalu pada lawakan-lawakan kasar yang mendominasi acara tipi.., lalu pada… Ah, sudahlah…

Ditulis pada budaya, Indonesia, nothing, psikologi, renung, sak karepe, Uncategorized | 23 Komentar

operFrotektip

Itu adalah di sebuah toko buku ketika saya sedang mengamalkan salah satu hobi saya: nguping pembicaraan orang.

Dan pada saat itu adalah sepasang suami isteri (setidaknya menurut pengamatan saya) sedang berbincang biasa saja.

“We lha, sampeyan itu kok milih bacaannya ngeri model gini to, pakne (=panggilan untuk suami)?” itu si isteri yang berkomentar tentang buku berjudul Il Principle (Sang Pangeran) karangan Niccolo Machiavelli (bukan Gigolo Mafiapel…) yang di cover depannya diberi komentar oleh Michael Hart: “Buku pedoman untuk para diktator”

“Weh lha kenapa to bune (=panggilan buat isteri)?” ini si suami yang bilang

“Apa kamu pengen jadi diktator, sehingga harus berguru pada machiavelli?”

“Owalah bune..bune, situh kok cupet banget to mikirnya…”

“Yang namanya mbaca buku itu bukan berarti lalu kita harus mengamalkan apa semua yang ada dalam buku itu. Lha, buku itu rak ya cumak karangan manusia… Lha manusia itu kan juga sama kayak kita, sering ada salahnya. Kadang pinter di sini tapi pekok di situ. Mbaca buku itu tujuannya rak ya buat menambah ilmu, menambah wacana atawa pengetahuan. Lhah, pengetahuan itu sendiri kan sebenere netral to tergantung situh yang mau menggunakannya nanti. Orang kok sukanya heboh duluan. Lha situ kan pasti juga belom mbaca kan buku ini., lagian kan belom pasti kan nyang mbuat buku ini lebih pinter dari kita…” begitu kurang lebih (lebih dikit ndak papa lah) kata si suami sambil memegang itu buku.

Weh, saya kok suka dengan kata-kata terkhir itu ” …kan belom pasti nyang mbuat buku ini lebih pinter dari kita…” Ini namanya pembaca yang cerdas, yang tidak asal nginthil (taklid alias menurut sajah), tapi memandang buku sebagai sarana sharing pengetahuan antar sesama manusia. Bagus itu…

”Jadi orang itu ya mbok jangan terlalu gampang paranoid gitu. Kalok sudah kuwatirnya berlebihan trus ini dilarang itu dilarang ya jadinya overprotektif itu namanya to bune..?” itu si suami ternyata hobi banget ndobosnya

Hmm. ..

Over kuwatir itu memang kadang identik dengan sikap ofensif lalu mengekang orang lain. Walaupun mungkin maksud awalnya baik, tapi orang yang dikekang pun jadinya malah tidak berkembang. Beberapa waktu lalu ada seorang ibu yang cerita tentang temennya. Temennya itu sayang banget sama anaknya. Karena ingin masa depan anaknya gilang gemilang, setiap hari itu anak disuruh les ini itu dan juga les itu ini. Dan si anak pun akhirnya hanya bisa mengikuti saja tanpa ada gairah ikhlas. Tentu saja tidak ikhlas, lha wong dia sedari kecil dipaksa untuk mengikuti pola pikir dan kemauan ibunya je.. Sampe kemudian pada klimaksnya si anak merasa sangat ndak tahan dan lalu meminggatkan dirinya ke rumah temennya. Kisah selanjutnya gimana saya juga gak tau, besoklah saya tanyain lagi ke ibu itu kalo ketemu di pasar…

Eniwei, memproteksi itu sebenere perlu. Yang namanya kebebasan yang bablas juga ndak baik, tapi manusia tetap membutuhkan ruang yang longgar buat mengaktualisasikan energi dan kreativitasnya. Dan jika ruang itu terus dipersempit, gawat itu namanya…

Ditulis pada budaya, Indonesia, psikologi, renung, RPM konten, sak karepe | 17 Komentar

eKsistensi

A long December and there’s reason to believe
Maybe this year will be better than the last
I can’t remember the last thing that you said as you were leaving
Oh the days go by so fast
And it’s one more day up in the canyons
And it’s one more night in Hollywood
If you think that I could be forgiven
I wish you would

Nyang  di atas itu adalah kutipan lagune, Counting Crows, judule Long December. Long itu kalo di kampung saya artinya mercon atau petasan, tapi kalo dalam bahasa inggris artinya: panjang…  Memang benar sih, itu info gak penting.

Lalu, kenapa kok saya menampilkan penggalan lirik di atas?

Ya, gak apa-apa to ya? Lha, ini kan sudah bulan Desember, jadi saya kira cukup nyambung kalo saya menampilkan lagu yang ada unsur desember-desembernya begitu. Jadi, biar blog ini ada tulisannya lagi, ada apdetannya lagi. Biar anda semuwa tau kalo saya masih hidup, masih eksis dalam hal mengeblog, hehe…

Katanya sih menjaga eksistensi itu penting, dan syarat mutlak untuk hidup, sodara.. Lha iya, eksistensi itu, kalo dalam kamus artinya keberadaan. So, bagaimana kita bisa menjalani hidup seandainya kita tidak merasa ada, sebagai diri kita sendiri, sebagai bagian dari keluarga kita, sebagai bagian dari masyarakat dunia, dunia maya juga.

Banyak cara yang ditempuh manusia untuk menjaga eksistensinya. Cara paling baik adalah dengan berbuat baik kepada orang di sekitarnya sehingga orang lain bisa merasakan dan mengharapkan keberadaannya, begitu kata temen saya yang suka adzan si mesjid. Cara berikutnya adalah dengan memberi kepada dunia melalui kerja dan karya. Ya, melalui pekerjaan dan karya seorang bisa terjaga eksistensinya. Lha, jika ada orang lain yang menikmati hasil kerja atawa hasil karya kita tentunya mereka jadi bisa merasakan manfaat dari keberadaan kita di dunia, dan bagi kita sendiri, oh betapa senangnya kalo karya kita ada manfaatnya bagi orang lain, dan kita pun merasa berguna, merasa eksis, begitulah…

Lha, belakangan ini ada cara pintas yang sering ditempuh seseorang untuk menunjukkan eksistensinya, yaitu dengan cara mbikin sensasi atau mbikin heboh. Banyak cara yang ditempuh yang cenderung gak mutu, misal dengan bikin video bugil sendiri, masuk ke dalam arena pertandingan olahraga tingat internasional dan lain sengacaunya, silahkan cari contoh sendiri…

Dalam dunia silibritis, cara pintas untuk menunjukkan eksistensi tersebut difasilitasi dengan amat bagus dengan adanya enfotenment. Anda tentunya tau kan apa itu enfotenment? Dan sialnya, makin hari kok kayaknya makin banyak aja itu tayangan seperti itu di telepisi kita…

Na..na..na..na..na..na..na..na..naa.. iye….

(melanjutkan lagu di atas)

Ditulis pada budaya, for u, Indonesia, psikologi, renung, sak karepe, Uncategorized | 28 Komentar

tentang peMuda

“Kenapa ya pemuda jaman sekarang itu kok ndak seperti jaman dulu, pemuda sekarang ituh kok suka neko-neko dan lebih mudah mengarah ke yang jelek-jelek ya dibanding dulu?” itu Kang Yitno bilangs

“Ya ndak semuanya jelek to Kang..” ini saya yang bilangs

“Lhah.., lha itu sampeyan ndak liat, berita dimana-mana, tawuran, perbuatan mesum..bla..bla..bla…” panjang sekalee daftar yang beliau ini omelkan (sayangnya berita tentang hal-hal tersebut memang benar adanya), ujung-ujungnya kembali dia mengambil kesimpulan bahwa budaya asinglah yang menyebabkan ini semua (jadi terngiang postingan ini)

Saya jawab:

“Ya iya lah bos, lha wong jaman sekarang kan pergaulan kita lebih global, lebih banyak tantangan, lebih banyak penawaran tentang bermacam gaya hidup, kalo orang jaman dulu kan hanya tinggal dan bergaul di komunitasnya sajah, sehingga pola perilaku mereka pun ndak jauh beda dengan orang-orang di lingkungannya.., dunia pesikologis mereka ya hanya lingkungan ituh saja, beda dengan dunia pesikologis anak jaman sekarang, kan ada telepisi, buku, pilem, internet dan lain seabregnya…”

Weh, lha iya kan sodara? Bukankah hidup di jaman sekarang itu lebih susah dibanding dulu. Kata seseorang (saya lupa siapa), berjubelnya informasi itu akan menyebabkan terjadinya kemustahilan identitas, pergantian trend yang begitu cepat membuat apa yang kemaren dianggap hebat menjadi begitu cepat kadaluwarsa, dan ah.., itu sangat tidak ramah bagi pembentukan identitas, terutama anak muda…

Perubahan tren dan mode yang begitu cepat sodara, kadang tak memberi kesempatan buat kita untuk jadi tau tentang apa yang sebenarnya ingin kita dalami, apa yang sebenarnya kita cintai…. Apalagi jika kau hidup di dunia yang hanya melulu berorientasi materi…

“Tentang anak muda yang sukanya neko-neko.., ya jelas wajar, lha wong namanya juga anak muda kok.., ya sebenarnya tugas sampeyan juga tuh Kang buat ngebantu mereka menyalurkan fitrah neko-neko mereka ituh…” ucapan saya ini (tumben) diamini sama Kang Yitno, yang lalu disambung dengan ceritanya tentang keneko-nekoannya di masa muda dulu, halah, panjang sekali sodara ceritanya….

Mmmm.., nganu…

Orang tua tuh kok sukanya bilang itu yah, “anak jaman sekarang itu sukanya neko-neko…. bla..bla.bla.., ndak seperti dulu yang…bla…bla..bla..”

Saya gak tau, apakah para pemuda yang dulu mengikrarkan Sumpah Pemuda itu dulu orang tuanya juga marah-marah sambil bilang gini: “yah, anak jaman sekarang emang neko-neko, sudah ayem tentrem sama Londo kok ya neko-neko sumpah segala, pengen merdeka segala.., ada-ada sajah…”

Yah, pemuda memang ada-ada saja.., dan sesungguhnya peradaban manusia jadi berkembang begitu hebat juga karena orang kreatif itu selalu ada-ada saja..

Selamat mengenang Sumpah Pemuda

Selamat Hari Blogger Nasional

Selamat  berneko-neko

Uye…

 

Ditulis pada budaya, for u, Indonesia, psikologi, renung, sak karepe, sejarah, Uncategorized | 48 Komentar

dokumentasiSasi

Beberapa waktu yang lalu itu, bersama beberapa temen kuliah saya ngumpul-ngumpul di sebuah kopisop. Ngumpal-ngumpul tentunya juga minam-minum, juga mokan-makan, juga udad-udud (saya), juga fota-foto…

Nah, untuk urusan fota-foto ini kemaren ada teman yang prutes. Ceritanya secara tidak sengaja teman saya yang cantik ini datang juha ke tempat tersebut karena ada janji sama teman SMA nya. Lalu ketika dia melihat kami, dia pun lalu ikut nimbrung sebentar..

Nah, karena acara foto-fotoan sudah dilakukan diawal dan kamera sudah saya masukin lagi ke garasi, dan karena dia hanya singgah di meja kami gak begitu lama (karena ada janjian lain), maka tidak sempatlah itu kamera digital jadul punya saya membidik parasnya yang cantik itu. Baru nyadar akan hal ini ketika saya mau upload foto di fesbuk, dan seperti bisa diprediksi, beliau ini pun prutes: kok fotoku ra ono cah? (kok, foto saya tidak ada, temans?, begitu kurang lebih dia berkata.. ya kalo kurang dikit ato lebih dikit gak papa lah, wong teman kok…).

Saya lalu nyadar kalo sense of documentation yang saya miliki itu masih perlu diasah maning…

Nganu..,

Membidikkan kamera adalah momen dalam hitungan detik. Tapi momen tersebut bukan sembarang momen, tentu kau sering mendengar kalau ada peristiwa tertentu, ketika para juru foto siap membidikkan kameranya, kalian akan bilang: mereka sedang mengabadikan peristiwa tersebut. Mengabadikan, membuat peristiwa tertentu menjadi dokumentasi yang dapat selalu dilihat kapan pun.

Oh yes, dokumentasi, cah…

Ini adalah definisi dokumentasi menurut sebuah sumber: pengumpulan, pemilihan, pengolahan, dan penyimpanan informasi dlm bidang pengetahuan; pemberian atau pengumpulan bukti dan keterangan (spt gambar, kutipan, guntingan koran, dan bahan referensi lain).

Dokumentasi bukan hanya dalam bentuk foto, bisa juga video, bisa data tertulis, suara dan lain sebagainya, apakah itu lain sebagainya? Ya silahkan kau cari sendiri, wong sampeyan kan lebih pinter dari saya, sukanya kok nanya terus…

Dokumentasi memegang peran yang teramat penting dalam perkembangan peradaban manusia. Dari dokumentasi yang dilakukan oleh orang-orang jaman dulu lah kita lalu belajar, belajar untuk kemudian memplesetkannya. Yah, peradaban manusia yang begitu maju ini jelas merupakan hasil dari pendokumentasian yang baik dari orang-orang yang dulu pernah hidup. Pertama-tama orang membaca dan mempelajari alam, lalu berusaha dengan akal pikirannya untuk memanfaatkan apa yang ada di alam untuk dipakainya meningkatkan kualitas hidup. Ya, dulu orang membajak sawah pake kebo. Generasi berikutnya memplesetkan cara membajak sawah tersebut dengan memasukkan unsur mesin, sehingga terciptalah traktor untuk membajak sawah.  Itu baru satu contoh saja, membajak sawah, ada banyak contoh lain sebenarnya, seperti membajak laut atau membajak sofwer. Tapi ya itu tadi, gak perlulah dijelaskan satu-satu, kalian kan sudah pinter, iya to?

Dan oh, blog ini pun bukankah juga termasuk wujud konkrit produk pendokumentasian. Melalui blog, para narablog mengabadikan pengalaman, pemikiran dan juga mungkin ilmu-ilmunya, sehingga kelak bisa dijadikan oleh orang lain atau generasi sesudahnya sebagai media pembelajaran lalu memplesetkan atau mengembangkan atau memodifikasikan ilmu tersebut menjadi ilmu yang entah apa dan bagaimana.. wuih, hebatnya

Halah pokoke intinya, bangsa beradab adalah bangsa yang memiliki sense of documentation yang tinggi…

Ditulis pada budaya, Indonesia, psikologi, renung, sejarah, Uncategorized | Di-tag | 40 Komentar